Kamis, 17 April 2014

CRP.VOL 1


           Sehijau harapan dalam  ilustrasi sang Ayah

Januari yang kelabu. Seperti kemarin hujan turun lagi. Beribu bulir
hujan yang jatuh menyapa bumi. “aduh
  kenapa sih,
dari kemarin hujan terus gak berhenti-henti?” ujarku
 berjalan terseok-seok menuju kamar kakak laki-lakiku, dan menyeret
sebuah kursi sofa ke tepi jendela dan duduk diatasnya. Kakakku yag sedang asyik
bermain play station ramah lingkungan yang dibuatnya hanya menoleh sekilas ke
arahku. “Memang kenapa sih ocha?, hujan itu nikmat loh, harus disyukuri”.
Celetuknya, lalu kembali menekuni layar televisi.
                                                           
Pagi ini terlihat cerah, mendung sudah tak terlihat lagi, namun
ketika aku membuka jendela kamarku, bau busuk yang membelenggu tercium oleh
hidungku. Aku pun bergegas kekamar bang Boim dan menggoyang-goyangkan tubuhnya,
dan menyuruhnya untuk
  melihat keadaan dikamarku. Bau apaan sih
cha?
celetuknya sambil menutup indra pembaunya. “Lha nggak tahu, biasanya
kan abang yang sensitive sama beginian?” protesku.
  Hmm, pantes itu sungai belakang rumah, sampahnya aja pada numpuk, ya
baunya sampe sini
. Lagian siapa sih yang buang sampah disitu?, minggu lalu kan abang sama
temen abang udah bersihin?, kok udah numpuk ajja?”, protesku. “Lagian siapa sih
yang buang sampah disungai, bukannya udah tahu ntar jadinya bakal gimana.”
Katanya kesal.
 

Barisan kendaraan sudah berjejeran di sepanjang jalan raya hari ini.
Kemacetan seperti ini sudah mungkin terjadi menimpa diriku. Namun lain halnya
dengan kakakku, Boim, dia tidak pernah mengalami kemacetan ketika berangkat ke
kampus sekolahnya, sampai sekarang pun dia juga belum terlalu lancar
mengendarai sepeda motor. Walaupun kebanyakan teman-temannya menyuruhnya
mengendarai motor, namun dia berpendapat kesadaran menggunakan sepeda oleh para
generasi muda karena hancurnya bumi dengan polusi yang diakibatkan oleh
kendaraan bermotor. Selain menurutnya sepeda sebuah kendaraan yang murah,
terjangkau oleh semua masyarakat dan sangat banyak memiliki manfaat kepada
sekitar sampai kepada diri sendiri.

Berbeda denganku, aku tidak terlalu menyukai penghijaun, kelihatannya
sama saja, tidak mempengaruhi keadaan bumi sekarang. Namun kakakku selalu
mengajakku melakukan aksi penghijauannya bersama di hutan, seperti
  liburan akhir semester ini dia berniat mengajakku program go green
one man one tree, satu orang satu pohon, menyebutnya sebagai paru-paru dunia.

                                                                       

            “The number you’re calling can not be reach at the moment, please
try again”, “ahh gagal lagi” kata kakak yang dari tadi memencet-mencet tombol
hpnya terlihat putus asa. Kami pun pergi meninggalkan halte bus dan menuju
ketempat yang sudah terasa sejuknya. Kami pun mendatangi sebuah rumah tua
dengan tembok yang hanya berupa bambu dan sebuah pintu triplek. “Dug dug dug!”,
kakakku pun mengetuk pintu tersebut, sedangkan aku hanya diam tidak tahu apa yang
sebenaranya kakakku lakukan.
 

            “ Ya siapa disana?” jawab seseorang dirumah itu, suaranya terlihat
lemah juga rapuh. Selang beberapa lama muncul seorang kakek dengan susah payah
membuka pintu rumahnya sambil memegang tongkat bambu. Terlihat kurus dan pucat.
 

            “Oh, kamu cu sini masuk dulu, pasti capek habis perjalanan jauhkan
tadi kesini.” Aku dan bang Boim pun akhirnya masuk dan duduk lesehan diatas
anyaman yang terlihat kusam dimakan usia. “Kek, saya dan Ocha hanya ingin
menanyakan beberapa hal kepada kakek tentang ayah saya”, kata kakakku dengan
lembut dan sopan. “Iya, tanya apa cu?” tanya kakek dengan suara yang rapuh
namun pasti. “Sebenarnya dimana ayahku kek?, aku menemukan surat ini di dalam
lemari mama kek, katanya aku boleh menyusul ayah di alamat ini kek, tapi
ternyata ini rumah kakek.” Tanya kakaku lagi, dan lagi-lagi aku hanya diam dan
tidak mengerti apa-apa tentang ini.

“Kakek tidak tahu cu, setahu kakek ayahmu tinggal di jalan Flamboyan
nomer 17” sahut kakek. “Hah? Jalan Flamboyan? Dimana itu kek? Kata kakak
terlihat kaget . “Tempatnya berada di hutan tunjang daerah barat, kira-kira 100
meter dari sini, mau jalan, atau mau pakai sepeda ontel kakek?”. “Tapi kok udah
karaten begitu ya kek?”. “Gini-gini masih bisa jalan” jawab kakek tersenyum.
“Ini ambil, bisa naik sepeda tha??” sambil mengambil sepeda di belakang
rumahnya.

“Keren ya ocha?, keren banget kek onthelnya”. “Iya cu, ini sepeda
legendaris jamnnya Belanda dulu”. “Iyya kek, saya langsung pergi aja ke Hutan
Tunjang ya kek, ini udah sore soalnya”.” Kami pamit dulu ya kek” sahutku dan
memonceng bang Syahrir di belakang. Sampai dijalan menuju hutan planet ternyata
hari sudah mau gelap. Lalu aku bersama bang Boim menuju salah satu gubuk dan
menemui seseorang yang kelihatannya adalah penjaga hutan planet tersebut. “Maaf
nak, adaapa kemari?”. “Maaf pak saya ingin bertemu ayah saya di jalan Flamboyan
nomor 17?”. “Oh ya, maaf nak, mari saya antarkan?”. “Kenapa bapak meminta maaf
kepada saya?”. “Maaf nak”. Kata penjaga itu tanpa menjawab pertanyaan kakak
lelakiku.
 

Sesampainya dijalan Flamboyan nomor 17, aku dan bang Boim menganga
ketika melihat sebuah rumah yang besar dengan penjagaan lengkap juga. Kami pun
langsung masuk kerumah tersebut dengan perasaan yang takut luarbiasa karena
terlihat orang yang mempunyai rumah ini adalah orang penting dan terkenal. Tapi
tanpa disangka, penjaga tersebut membiarkan kami masuk dan membiarkannya tanpa
menanyainya. Lalu seseorang pun keluar, kami pun bertemu dengan sang ayah.
“Ayahhh..” kata bang Boim sambil berlari ingin memeluk sang ayah. “Anakku...”
kata si ayah dengan tampang lugunya yang polos sekaligus bingung
  siapa dua pemuda yang ada di depannya. Siapa
sebenarnya dia?
tanya bapak itu kepada salah satu penjaganya. Aku pun menyusul kakakku
dan tanpa disengaja aku terpeleset dengan wajah membentur batu. Ternyata
yang ia temui itu bukanlah ayahnya, ayahnya ternyata adalah penjaga pintu yang
tadi meminta maaf kepada Boim.
 
                                                                       

“Cha, Ocha bangun cha?”, aku hanya terdiam, ternyata aku hanya
kelelahan mencangkul tanah. Aku dan bang Boim pun bergegas melanjutkan aksi
penghijauan di hutan ini, “kak kita udah banyak nanam pohon di hutan ini, tapi
nama hutan ini apa?” tanyaku memastikan. “Kurang tahu juga cha, tapi sekitar
500 meteran lagi udah ada canopy bridge”. Ternyata hutan ini bukan bernama Hutan
Tunjang. “Cha cepetan lanjutin, bengong ajja, yang penting sekarang kita harus
mengikuti kehidupan masa depan pohon yang kita tanam ini, kamu ingat pesan yang
ada di
  surat lemari mama kan?, kalo kita bisa menyukseskan gerakan menanam
satu milyar pohon, kita akan secepatnya bertemu ayah
. Sehijau
harapan dalam anganku dan tersenyum sambil mengilustrasikan wajah sang ayah. Tanpa
disangka ayahnya melihat mereka berdua dari belakang pohon dengan penuh bangga.
Karena alam adalah asanya.

17-04-2014
Share:
Lokasi: Sorong, Sorong City, West Papua, Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Halaman

ABOUT

Foto saya
Welcome to my imagination, shadow, moodboosta, my self, trip, adventure dan lainnya. please comment in my story.